Cerita “Do it Scared” Saya


Semenjak masuk 2018, rasanya sudah begitu lama saya tidak kembali menulis, sebuah “hobi terpendam” yang kembali terpendam selama beberapa bulan di awal 2018. Saya tidak mau menyalahkan kesibukan kerja dan kemalasan diri saya, semua karena selama beberapa bulan ini fokus saya terpecah belah. Saya kesulitan menemukan life purpose dan fokus saya, lalu masuk kembali ke dalam lingkaran kegalauan yang tak berkesudahan, hingga saya lupa hobi menulis dan berbagi cerita ini. Puji Tuhan, selesai dari Easter Retreat selama Paskah 2018 kemarin, saya perlahan kembali menemukan dan meneguhkan hasrat hidup ini, salah satunya yah dengan menulis.

“Do it Scared!” , sebuah frasa sederhana 3 kata ini begitu punya makna mendalam bagi saya. Seringkali tanpa saya sadari, sudah begitu banyak hal-hal yang saya takuti (dulunya), telah saya lalui dan beberapa di antaranya menjadi sebuah hal yang biasa saya alami sekarang. Ketika kamu merasakan ketakutan akan sebuah hal baru, lingkungan baru, lakukan itu dengan rasa takutmu, do it scared!

Belajar Naik Sepeda Motor

Sama halnya seperti ketika belajar naik sepeda pertama kalinya, hal yang paling kita takutkan pasti adalah ketika jatuh. Begitu pula dengan sepeda motor, saya yang punya trauma ketika pertama kali ‘meng-gas’ sepeda motor milik teman saya, dan motor itu menabrak pagar besi karena saya panik dan lupa melepas pedal gasnya. Oleh karena trauma tersebut, sampai berbulan-bulan saya tidak berani menyentuh sepeda motor, bahkan sepeda motor milik Ayah saya sendiri. Sampai suatu ketika, hiduplah hasrat “Do it Scared” dalam diri, saya mengalahkan rasa takut tersebut dan begitu puaslah saya ketika bisa keliling komplek perumahan dengan sepeda motor saya. Keliling antar kota dengan jarak yang ratusan kilometer pun pernah saya lalui, dan itu tidak akan terjadi kalau saya tidak berani mengalahkan rasa takut saya tersebut.

via YouTube

Ikut Kompetisi Hackathon

Hackathon adalah sebuah acara kolaborasi pengembangan aplikasi software, biasanya diadakan dalam satu hingga tiga hari penuh. Dalam rentan waktu beberapa hari tersebut, para peserta Hackathon yang terbagi dalam beberapa tim masing-masing mengembangkan sebuah ide aplikasi dan mewujudkannya dalam sebuah prototype yang siap untuk diuji coba.

Tanpa pengalaman ikut sebelumnya, tentu rasa takut melanda diri saya, “gimana kalau saya tak ada ide sama sekali selama hackathon”. Namun, semua rasa takut sirna, ketika saya bisa menikmati proses selama hackathon, bukan hasil akhirnya. Menemukan teman baru, berjejaring dengan rekan-rekan peserta lain, bahkan hingga belajar dari para pakar di industri, menjadi pengalaman tak ternilai lewat kegiatan ini. Terlepas dari sisi negatif dimana jam tidur yang berkurang karena bergadang, acara ini menjadi sarana positif dimana saya yang masih pemula saat itu belajar banyak dari hackathon pertama, semua karena saya berani keluar dan mengalahkan rasa takut saya.

Tinggal Jauh dari Keluarga

Kenyamanan tinggal di rumah bersama keluarga, rasanya begitu sayang untuk ditinggalkan. Namun semua berubah ketika saya bekerja di Jakarta, jauh dari rumah saya di Bekasi. Tinggal dan hidup di kos-kosan rasanya begitu menakutkan, “kalau sakit siapa yang ngurusin gw?”. Kalau ini, kalau itu, dan berbagai excuse lainnya.

Eh ternyata hidup di kosan jauh lebih baik daripada apa yang selama ini saya takutkan. Punya housemate yang bisa diajak berbagi cerita, punya banyak waktu untuk me time dan juga saat teduh, dan lebih sedikit distraksi dibanding tinggal bersama keluarga. Saya juga belajar untuk mengurangi segala possesion di rumah, yang tidak mungkin saya bawa semua ke dalam kosan yang terbatas ruangnya, belajar menjadi seorang minimalist. Saya yang introvert pun bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, yang menjadi modal berharga untuk petualangan selanjutnya.

Solo Traveling Pertama Kali ke Surabaya

Sudah lama terbesit pikiran dan niat untuk solo traveling, namun selalu terkendala oleh masalah waktu dan kesiapan mental. Selalu ada rasa takut ketika pertama kali ingin coba traveling sendirian, takut akan kecelakaan, takut akan kehabisan uang, takut dicopet orang, dan takut-takut lainnya.

Pada akhirnya, saya baru berani melakukan solo traveling ketika terlepas dari pekerjaan full time kantoran saya. Saya punya begitu banyak waktu luang, yang rasanya ingin saya gunakan untuk keliling Indonesia. Namun kali ini, saya hanya mampu ke Surabaya dan Malang. Pengalaman paling seru ketika solo traveling ini adalah ketika saya menyusun itenary, memesan tiket pesawat dan penginapan sendiri, menyusun perkiraan budget. Semua itu tidak akan saya pelajari jika saya tidak melakukan solo traveling dengan segala ketakutan saya ini.

Working Holiday di Australia

Ini yang paling fresh di benak saya, bagaimana akhirnya saya memulai sebuah pengalaman tak ternilai di ‘usia perak’ ini. Tinggal di negeri yang saya belum pernah jamah sebelumnya dalam jangka waktu satu tahun lebih dengan segala ketidakpastiannya, menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar orang.

Mencari pekerjaan tanpa pengalaman bekerja casual (baca: kerja kasar) di Australia memang beresiko sekali. Saya harus siap uang untuk bertahan hidup tanpa penghasilan selama beberapa waktu, menerima gaji underpaid di masa-masa awal bekerja, bermasalah dengan rekan kerja atau bos, dan lain sebagainya. Mental saya sungguh-sungguh diuji di Australia.

Jika di social media kamu bisa melihat bahwa para pemegang Working Holiday itu hidupnya senang-senang saja, maka kamu harus tahu bahwa ada harga yang harus dibayar mahal di balik itu semua. Bekerja di hari libur, Sabtu atau Minggu, kerja hingga larut malam bahkan sampai pagi, gaji tidak dibayar, kena penyakit, dan banyak lainnya. Tapi kalau kamu bisa bertahan dari semua itu, percaya deh kamu akan lebih bahagia melihat dirimu yang level up setelah merasakan semua itu. Lakukan dengan segala rasa takutmu.

Penutup

Kamu yang masih takut untuk mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang kamu tidak yakin, kamu takutkan, do it scared. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya, jika kamu tidak pernah melakukanya, setidaknya hanya untuk mencobanya. Baik atau buruk, kamu akan belajar nantinya. Saya sudah melewati beberapa rasa takut tersebut, dan tak berhenti untuk selalu terus belajar. Kamu juga bisa, Do it Scared!

 

Advertisements

2 thoughts on “Cerita “Do it Scared” Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.