Sedikit Cerita di Tahun 2016 – Secercah Harapan


Cukup lama saya tidak menulis cerita lagi di blog ini. Lewat sharing tentang “Kekuatan Menulis” dari RokushikiMaster, salah satu fanpage favorit saya untuk manga One Piece, saya kembali diingatkan akan betapa pentingnya menulis, bagaimana menulis memberi dirimu dan juga orang lain sebuah kekuatan.

Masa Natal dan menjelang akhir tahun 2016 menjadi saat yang tepat untuk mulai merefleksikan apa saja yang sudah kita capai dan lalui di tahun 2016 ini, dan juga waktu mempersiapkan diri untuk menyambut tahun 2017 yang akan datang. Saya pun selalu memanfaatkan momen akhir tahun untuk hal ini, dan kali ini saya ingin mencoba membagikan sedikit cerita saya di tahun 2016, bagaimana saya bertumbuh bersama komunitas, pekerjaan, dan ‘keluarga’ saya, serta memulai petualangan baru di dunia baru bernama Australia.

Pelayanan bersama SEP Mudika

Tak pernah terpikir sebelumnya di benak saya bahwa ada komunitas seperti SEP Mudika di tengah hiruk pikuknya kota Jakarta ini. Kami, secara khusus, Mudika (Muda Mudi Katolik) se-Jabodetabek lintas paroki berkumpul untuk belajar bersama, fellowship bareng, berbagi kisah dan pengalaman hidup, perayaan dan doa ulang tahun, sampai dengan proses melayani bersama selama kurang lebih satu tahun. Saya tergabung dalam angkatan SEP Mudika XIII (tahun 2015). Bersama teman-teman yang luar biasa selama kurang lebih dua tahun ini, saya menjadi terbiasa berdoa baik secara pribadi maupun berkelompok, dan menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur dalam hidup.

Tahun 2016 ini menjadi tahun pelayanan kami untuk kepanitiaan SEP Mudika XIV. Semua yang sudah kami persiapkan dan rencanakan semenjak akhir 2015, kami coba eksekusi sebaik mungkin agar para peserta SEP Mudika XIV dapat menjalankan proses yang akan mereka lalui dengan lancar dan penuh berkat. Puji Tuhan, awal Agustus 2016 ini, kami boleh menyelesaikan tugas pelayanan kami lewat simbolisasi penyerahan tongkat estafet ke panitia SEP Mudika XV (2017) pada acara Outbound tahun 2016 ini. Proficiat SEP Mudika XIV dan selamat melayani SEP Mudika XV tahun depan.

Dua tahun bersama komunitas orang muda ini membuat jiwa muda saya selalu bergelora, untuk selalu haus belajar karena selalu ada satu hal baru untuk dipelajari, untuk selalu mengerjakan hal-hal yang kecil dengan cinta yang besar.

Terima kasih kepada PDOMK Filius Dei, yang sudah mengenalkan saya pada komunitas SEP mudika ini. Berkah dalem

Baca juga salah satu cerita saya tentang Outbound SEP Mudika tahun 2015 yang lalu.

Resign dari Touchten Games

Kurang lebih tiga tahun lamanya saya bekerja di sini. Touchten menjadi tempat saya mengembangkan minat, bakat, dan kecintaan saya terhadap dunia video game. Bos dan rekan kerja yang luar biasa dengan talentanya di bidangnya masing-masing, dan kami menggunakan panggilan ‘kazoku‘ (yang artinya keluarga dalam bahasa Jepang) sebagai bentuk ungkapan bahwa kami adalah satu keluarga.

Jumat, 30 Agustus 2013, saya begitu bersemangat menulis email lamaran magang kepada Touchten Games. Dan beberapa hari kemudian, tepatnya Senin, 2 September 2013, menjadi hari pertama saya menginjakkan kaki di kantor yang membangun dan mengembangkan diri saya selama tiga tahun ini. Namun tanpa terasa, tiga tahun kemudian, yang kebetulan jatuh pada tanggal yang sama, 2 September 2016, dengan berbagai pertimbangan, saya akhirnya memutuskan untuk resign dari perusahaan yang sudah menjadi keluarga kedua saya ini.

tiga-tahun-touchten-1
Email pertama saya untuk Touchten

Salah satu video pertama tentang Touchten yang saya tonton di tahun 2013 dulu

Bekerja dengan Touchten Games menjadi salah satu momen terbaik dan berkesan dalam hidup saya, dimana saya bisa belajar ilmu game development dan dunia startup lebih dalam lagi, bekerja sebagai satu kesatuan tim, core values sebuah perusahaan, dan etika kehidupan profesional sebagai seorang pekerja. Saya menikmati pekerjaan saya mulai dari proses magang sebagai tim QA sampai akhirnya diterima sebagai karyawan penuh waktu di bagian Game Programmer. Hal ini membangun diri saya dalam mengembangkan keterampilan dan karir saya. Dari Touchten, saya mengenal lebih banyak rekan-rekan di bidang industri kreatif, kesempatan untuk berbagi ilmu di Binus dan Sesparlu, hingga kesempatan pergi ke Jepang. Terima kasih Touchten Kazoku!

Perjalanan ke Surabaya

Surabaya menjadi kota yang paling sering saya kunjungi selama masa cleaning journey saya pada awal bulan September hingga akhir bulan Oktober 2016. Banyak pengalaman serba pertama di kota Pahlawan ini. Saya mengikuti misa harian sekaligus melakukan ziarah rohani ke beberapa Goa Maria di beberapa Gereja Katolik di Surabaya. Saya mengikuti rangkaian acara dari BEKRAF Developer Day Surabaya. Tak lupa saya juga menyempatkan diri mengunjungi kantor Mojiken Studio dan Alkemis Games untuk sekedar bertegur sapa dengan rekan-rekan game developer di Surabaya. Dan sebelum kembali ke Jakarta, saya berkunjung ke Malang untuk bertemu dengan sahabat masa kecil saya menikmati beberapa wisata kuliner di sekitar Malang dan mengunjungi Batu Secret Zoo di kawasan Jatim Park. Dengan mengenal kota Surabaya, saya semakin cinta Indonesia.

Ga kalah sama antrian TGS Public Day #Bekraf Developer Day #Surabaya 2016

A post shared by Enlik Tjioe (@enliktjioe) on

 

WHV Australia

Keputusan paling besar dalam hidup saya dimulai dari sini. Oleh karena hasrat masa muda saya yang ingin merasakan petualangan di dunia baru (baca: luar negeri), saya mulai mencari informasi tentang bekerja di luar negeri sejak pertengahan tahun 2016. Beberapa negara terbesit dalam pikiran saya seperti Jepang, Singapura, Amerika Serikat, Belanda, Inggris, dan Australia. Namun akhirnya pilihan saya jatuh pada negara sekaligus benua terdekat dari Indonesia, Australia, dengan berbagai pertimbangan khususnya karena saya memiliki keluarga di Sydney. How grateful!

Saya mulai mencari informasi bagaimana supaya memenuhi syarat untuk bekerja di Australia, yang ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Namun, Tuhan memang punya rencana indah, saya tiba-tiba menemukan website yang memberikan informasi detail tentang Working Holiday Visa (WHV) Australia untuk Indonesia. Visa ini tergolong mudah untuk diajukan jika dibandingkan dengan visa bekerja lainnya untuk Australia. Tak lama setelah saya mendapatkan informasi WHV ini, saya pun menemukan grup Facebook WHV Indonesia yang ternyata jauh lebih informatif dibanding website resminya. Kakak-kakak WHV Warrior (baca: para pejuang WHV yang sudah menyelesaikan tugasnya) di sini tidak sungkan-sungkan untuk berbagi informasi tentang WHV mulai dari proses pengajuan sampai dengan proses mencari kerja di Australia. Terima kasih WHV Indonesia! Pinned Post ini sangat membantu sekali.

WHV_Indonesia_Meetup_Agustus2016.jpg
Meetup WHV Indonesia bulan Agustus 2016 yang lalu. Awal mula saya mengenal WHV. Cari di mana saya dalam foto ini 🙂

Bertemu Kangguru

Australia, negeri Kangguru, rasanya kurang afdol kalau saya belum bertemu Kangguru di negeri ini. Beruntung ada travel blogger keren dan informatif seperti Fahmi Catperku ini, saya pun langsung mempersiapkan waktu untuk berkunjung ke Morisset Park tidak lama setelah saya tiba di Australia. Terima kasih informasi lengkap-nya mas Fahmi Catperku.

Hi buddy, finally i can meet you, Kangaroo! #WHV #Australia #Morisset #MorissetHospital #Animal #Park

A post shared by Enlik Tjioe (@enliktjioe) on

Melamar Pekerjaan di Australia

Minggu pertama saya di Sydney, Australia, lebih banyak disibukkan dengan proses melamar pekerjaan, karena itulah tujuan utama saya berangkat ke sini, dengan holiday sebagai pelengkapnya, karena saya tidak mau menjadi WHV ini sebagai Working Hard Visa, keluar dari maknanya sebagai Working Holiday Visa. Berbagai situs lowongan pekerjaan pun saya ubek-ubek untuk mencari pekerjaan yang terbaik. Sambil mencari pekerjaan saya juga melakukan beberapa hal yang harus dipersiapkan setibanya di Australia.

Saya melakukan beberapa wawancara dengan berbagai employer yang menghubungi saya, dan mostly semua pekerjaan yang ditawarkan adalah sebuah pekerjaan yang benar-benar baru bagi saya, yang mungkin sama sekali tidak berhubungan dengan bidang pekerjaan saya di dunia teknologi informasi dan video game. Namun, kembali Tuhan punya rencana lain, saya menemukan pekerjaan awal terbaik di Australia lewat teman baik dari sepupu saya. Saya pun memulai pekerjaan baru saya (baca: pekerjaan casual) sebagai Kitchen Hand di Google Sydney.

Kitchen Hand di Google Sydney

Tak pernah terbayang di pikiran saya bagaimana sebenarnya bekerja sebagai Kitchen Hand itu. Satu hal yang paling saya takutkan sebelum memulai pekerjaan ini adalah ketika Chef atau rekan kerja lainnya meminta bantuan saya namun saya tidak tahu barang dapur apa yang ia maksud. Jangankan barang dapur dalam bahasa Inggris, barang dapur dalam bahasa Indonesia saja saya belum hafal. Namun rasa takut tersebut sirna sampai akhirnya saya memulai pekerjaan ini.

Dua minggu pertama menjadi trial yang cukup melelahkan secara fisik bagi saya, khususnya karena saya minim pengalaman dengan pekerjaan berat semacam ini. Saya pun menderita back pain di awal-awal masa kerja, oleh karena salah metode lifting barang-barang yang tergolong berat. Saya pun belajar untuk meminta bantuan orang lain, belajar mengatakan “Mate, can you give me a hand?” 🙂

Pekerjaan yang berat pun terasa menyenangkan ketika saya bisa menikmati fasilitas dari salah satu perusahaan dengan working environment terbaik, Google. Free foodfree snack, free drinks, leisure time place, gaming area, rest area, free toilet *eh, menjadi sarana yang disiapkan untuk para Googlers. Dan satu hal yang paling saya suka dari pekerjaan ini adalah rekan kerja yang multi cultural, saya bisa bertemu rekan kerja baru dari berbagai negara seperti Iran, Korea Selatan, New Zealanda, India, Taiwan, Jepang, Thailand, Filipina, dan beberapa negara lainnya. Saya sungguh-sungguh merasakan Australia yang multi cultural lewat pekerjaan ini. Betapa bahagianya saya menjadi bagian kecil dari Google Sydney. Terima kasih Compass Group Australia untuk kesempatan luar biasa yang diberikan ini.

Good Morning! Happy Monday and have a nice week! #PyrmontBay #WHV #Sydney #Australia

A post shared by Enlik Tjioe (@enliktjioe) on

Bertemu Komunitas Baru KPA Sydney

Mungkin memang ini jalan Tuhan, saya kembali diperkenalkan dengan komunitas rohani di Sydney. Beruntungnya saya tinggal di Sydney, bukan hal yang sulit untuk mencari teman-teman dari Indonesia. Saya pun diajak bergabung di komunitas KPA Sydney, yang sudah dibentuk secara resmi semenjak tahun 2009. Sharing pengalaman, cerita, dan kesaksian hidup dari teman-teman di sini semakin menguatkan saya untuk hidup di jalanNya, kapanpun dan dimanapun saya berada. I’m feel so blessed! 🙂

Merayakan Natal Pertama Kali di Luar Negeri

Natal tahun 2016 menjadi lebih spesial, tidak hanya karena jatuh pada saat weekend, namun karena ini kali pertama saya merayakannya di luar negeri. Pohon Natal yang super ‘wah’, dekorasi Natal di mana-mana, lampu natal yang begitu indah? Tidak, setidaknya untuk saya, itu bukan makna Natal yang terlalu spesial bagi saya. Makna yang lebih spesial adalah ketika saya bisa merayakannya bersama ‘keluarga’, berbagi kado Natal, dan membagikan kebahagiaan tersebut untuk orang lain. 

Natal_StMichaelHurstville.jpg
Misa Malam Natal bersama salah satu keluarga di Gereja St. Michael Hurstville

Christmas family time. I love them, i love Sydney.

A post shared by Enlik Tjioe (@enliktjioe) on

 

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca sedikit cerita dan tulisan saya ini. Semoga tahun 2016 ini menjadi tahun yang penuh cerita baik suka maupun duka bagi kita, dan bersiap menyambut tahun 2017 yang akan datang dengan penuh harapan dan sukacita. Mohon dimaafkan jika ada kesalahan kata ataupun pengucapan dalam tulisan ini.

Sebagai penutup kembali saya mengucapkan, Merry Christmas and Happy Holiday!
Buat liburan kali ini menjadi lebih bermakna untuk diri kalian dan sesama 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Sedikit Cerita di Tahun 2016 – Secercah Harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s