Sedikit Cerita dari Perjalanan ke Jepang September 2015 – Part 5


Tanpa terasa, hanya tersisa dua hari lagi kami berada di Jepang, Senin dan Selasa, 21 dan 22 September. Part 5 blog post ini sekaligus menjadi part terakhir. Dua hari ini benar-benar kami manfaatkan untuk menikmati suasana terakhir di Jepang, khususnya di Akihabara. Rencana awal kami yang ingin berkunjung ke kuil-kuil Asakusa belum sempat terlaksana, karena waktu yang tidak mendukung. Alhasil dua hari ini, benar-benar menjadi hari belanja habis-habisan sebelum kembali ke Indonesia.
Senin, 21 September, pagi sampai siang hari, saya bersama teman-teman berkeliling Akihabara, melihat suasana pagi hari, karena dua hari sebelumnya kami belum sempat menikmati suasana pagi hari Akihabara. Saya juga mendapatkan CD album LiSA titipan teman saya pagi hari ini, di sebuah toko bernama “Tora no Ana”.

Berhasil mendapatkan cd album LiSA di toko
Berhasil mendapatkan cd album LiSA di toko “Tora no Ana”
Action figure Star Wars yang keren!
Action figure Star Wars yang keren!
Siang hari, saya bersama Jojo kembali ke Makuhari untuk mengurus sesuatu yang sempat tertinggal di sana (kacamata saya). Sayangnya, kacamata saya tidak berhasil ditemukan oleh pihak Hotel Springs Makuhari. Ini juga menjadi pengalaman pertama kami berdua naik kereta tanpa dipandu oleh ko Anton ataupun mba Rizky yang notabene lancar berbahasa Jepang. Sempat hampir nyasar, karena tidak memperhatikan ‘line’ kereta, untungnya kami bisa tiba di Stasiun KaihimMakuhari dengan selamat. Suasana kangen dari Makuhari sangat terasa, padahal baru dua hari berpisah dari kota ini. Berbeda dengan Akiba, kota Makuhari di Chiba ini memiliki suasana yang lebih tenang, jalanan yang relatif sepi dan tidak terlalu penuh dengan gedung-gedung tinggi. Namun suasana tenang tersebut, yang justru menjadi nilai plus dari kota ini, *menurut saya. Makan siang kali ini, kami mencoba di Yoshinoya asli Jepang. Harga menu yang disajikan tidak terlalu jauh berbeda dengan Yoshinoya Indonesia. Satu hal yang saya suka dari restoran di Jepang adalah air minumnya yang tersedia gratis, entah itu air putih atau teh ocha. Selesai makan siang, kami menyempatkan diri pergi ke AEON Mall dekat hotel, untuk berkunjung ke Pet Plus, salah satu ‘pet shop’ di AEON. Jojo membeli beberapa perlengkapan untuk anjing kesayangannya, Chiba, di kota dengan nama yang sama ‘Chiba’ (*random). Di perjalanan pulang dengan kereta kami lebih percaya diri dan kembali ke Akihabara dengan selamat. Aplikasi Hyperdia menjadi aplikasi pemandu kami di perjalanan kereta kali ini. Satu hal yang saya kagumi dari kereta Jepang adalah begitu detailnya informasi jadwal kereta dan ketepatan waktunya.
Day 7, Sept 21_6587
AEON Mall di Jepang
Day 7, Sept 21_7448
Jojo berfoto di lambang QVC Marine Field, Makuhari
Day 7, Sept 21_8141
Berfoto dulu sebelum benar-benar meninggalkan Makuhari
Day 7, Sept 21_1499
Makan telur mentah yang layak dimakan di Yoshinoya Makuhari
Malam hari, kami diajak makan malam bersama ko Anton dan istrinya, di restoran daerah tetangga Akiba, yang menyediakan masakan Okonomiyaki dan Takoyaki yang sangat ‘uenak’. Kami berpindah dengan kereta sejauh satu stasiun dari stasiun Akiba untuk menuju restoran ini. Makan malam kali ini minus pak Omar, karena rekan kami satu ini, kehilangan komunikasi via LINE, sepertinya masih asyik berkeliling Akiba. Makan malam ini juga cukup unik, karena kami juga sambil belajar memasak sendiri Okonomiyaki “pizza” ala Jepang, plus takoyaki. Bagian tersulit adalah ketika berupaya membalikkan ‘pizza’ Jepang tersebut, karena kami balikan ‘pizza’ kami hampir selalu tidak rapi (baca: berantakan). Makan malam terakhir bersama di Jepang ini, juga menjadi sesi sharing hangat yang berkesan, karena di sini kami berupaya ‘open minded’, saling terbuka satu sama lain dalam berbagi cerita kami masing-masing.
DSCN9055 Day 7, Sept 21_311 Day 7, Sept 21_731 DSCN9059
Selesai makan malam, kami berkumpul lagi bersama pak Omar, dan bersama-sama menuju Don Quijote, toko oleh-oleh yang cukup lengkap, dan buka hampir 24 jam, pukul 10 pagi sampai 05 pagi. Kami berbelanja cukup banyak di sini, khususnya makanan-makanan khas Jepang. Puas berbelanja, kami kembali ke Hotel APA dan menikmati istirahat malam terakhir di Jepang.
Mencoba itu gratis! :)
Mencoba itu gratis! 🙂
Rendy berpose di Don Quijote
Rendy berpose di Don Quijote
Selasa, 22 September, menjadi hari terakhir kami berada di Jepang. Sedikit penyesalan bagi saya adalah saya belum sempat ke bagian dan distrik lain dari Tokyo seperti Asakusa, Shibuya, Shinjuku, dan lainnya, dikarenakan waktunya yang tidak memungkinkan. Oleh karena itu, saya optimis bisa berkunjung lagi ke negeri Sakura ini di lain kesempatan, untuk menuntaskan hal-hal yang belum sempat saya lakukan di ‘first trip’ ke Jepang ini, semoga! Kami checkout dari hotel sebelum jam 11, lalu menitipkan koper-koper dan beberapa barang kami di lobby hotel, karena kami masih punya waktu beberapa jam lagi di Akihabara untuk kembali berkeliling dan berbelanja. Di hari terakhir ini, saya dan Fadhil meyakinkan diri untuk membeli PS4 langsung dari Jepang. PS4 yang kami beli adalah PS4 ‘second’ grade A, yang berarti memiliki kualitas yang hampir serupa dengan PS4 baru, namun dengan harga yang jauh lebih murah. Saya dan Fadhil membeli PS4 dengan kondisi tax-free ditambah diskon 8% (paspor) + diskon 5% (VISA credit card), sehingga harga semula 31,800 Yen bisa menjadi 30,200 Yen (sekitar 3,6juta Rupiah dengan kurs saat ini). Yeah… salah satu wish list saya ini ternyata terbeli di Jepang. Saya juga membeli ‘action figure’ One Piece di toko bernama “Volks” yang menyediakan action figure baru dan second dengan harga relatif terjangkau.
DSCN9066
Pak Omar dan Jojo, jalan pagi di Akiba
Akhirnya, beli PS4 langsung dari negara asalnya, Jepang
Akhirnya, beli PS4 langsung dari negara asalnya, Jepang
Puas menikmati waktu terakhir di Akiba, kami makan siang bersama, ko Anton, Minako-san, Fadhil, Happy, Rendy, Enlik, Jojo, dan pak Omar, di restoran ‘Sumo’. Sebelum masuk, ada sebuah Robot yang menyambut kami dan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan, kami pun bermain-main dengan Robot ini sebelum dapat tempat duduk di dalam resto. Masuk ke resto, ko Anton menginformasikan bahwa seorang atlit Sumo hanya makan satu kali sehari, yaitu di siang hari, namun dengan porsi yang luar biasa banyak. Dan kami pun merasakan hal itu di makan siang ini, porsi yang disajikan cukup banyak dan kumplit. Selesai makan, kami pun bergegas kembali ke hotel APA, mengambil koper dan barang-barang yang kami titipkan, dan bersiap menuju bandara Narita.
Day 8, Sept 22_464
Berinteraksi dengan Robot di resto Sumo
DSCN9075
Pepper, the Robot
Day 8, Sept 22_1742
Restoran Sumo
Transportasi kereta bernama “Skyliner” menjadi transportasi mewah kami menuju bandara. Suasana dalam kereta “Skyliner” ini sungguh berbeda dari kereta biasanya, dan terasa lebih nyaman karena tidak penuh dengan penumpang. Kami terpisah di beberapa gerbong yang berbeda, lalu berkumpul kembali setelah turun di terminal 2. Tiba lebih awal, memungkinkan kami untuk kembali berkeliling dan berbelanja oleh-oleh di kawasan bandara Narita. “Tokyo Banana” yang cukup jarang ditemukan di Akiba, kini bisa ditemukan dengan mudah di berbagai toko di bandara.
Day 8, Sept 22_4241
Stasiun kereta “Skyliner”
Day 8, Sept 22_9517
Peron Skyliner
DSCN9083
Pemandangan dari dalam kereta Skyliner
DSCN9093
“Sayonara, Jepang!” – Pak Omar
Puas berbelanja, kami pun menunggu kedatangan pesawat JAL (Japan Airlines) sampai keberangkatan pukul 18.55 waktu Jepang. Dalam perjalanan kurang lebih tujuh jam dari bandara Narita ke bandara Soekarno Hatta, kami kembali diberikan pelayanan berkualitas dari para pramugari. Mulai dari snack ‘rice crackers’, jus buah, hingga makan malam yang ‘uenak’. Layar pintar juga menjadi teman kami selama perjalanan, kami bisa menonton movie-movie box office, mendengarkan lagu, bermain game, dan juga mendapatkan informasi soal pesawat lewat layar pintar ini. Tanpa terasa kami pun tiba di bandara Soekarno Hatta, hari Rabu dini hari sekitar pukul 01 pagi waktu Jakarta, mengambil koper kami, dan bersiap kembali. Ko Anton diantar pak Dayat pulang, dan kami naik Uber dan taksi untuk kembali ke kantor, menginap di sini, karena hari Rabu nya, kami harus kembali kerja.
DSCN9097
Foto saat kami tiba di bandara Soekarno Hatta (sayangnya ngeblur >.<)
Beberapa hal yang saya pelajari secara langsung dari perjalanan ke Jepang ini, di antaranya:
1. Antrian, bagaimana disiplinnya mereka dalam antrian, tidak ada saling serobot, semua mengikuti aturan.
2. Totalitas (etos kerja), terlihat dari setiap pelayan baik di pasar swalayan, restoran, pramuniaga, tour guide, sampai ke SPG/SPB Tokyo Game Show, semua menjalankan tugasnya masing-masing dengan total.
3. Uniform, orang-orang Jepang identik dengan keseragaman, mulai dari cara berpakaian, kebiasaan, dan sebagainya. Menjadi seseorang yang berbeda dan mencolok, adalah hal yang dihindari oleh orang Jepang pada umumnya.
4. Estimasi waktu yg tepat, hal ini benar-benar saya rasakan ketika berkunjung ke Tokyo Disney Sea, dimana estimasi waktu antrian, mulainya ‘show’, semua benar-benar on schedule sesuai estimasi, bahkan kadang lebih cepat. Dan juga di tiap antrian dalam TGS, selalu petugas booth, membawa informasi estimasi waktu antrian kepada pengunjung. Suatu hal yang sulit ditemukan di Indonesia.
5. Koordinasi yang baik, hal ini saya rasakan ketika merasakan antrian dalam TGS mencoba salah satu game di booth Sony, koordinasi yang baik antara masing-masing petugas, mulai dari registrasi, pemandu antrian, sampai ke SPG pemandu cara main game yang akan dimainkan, semua terkoordinasi dengan baik, sehingga saya yang tidak mengerti bahasa Jepang pun. bisa ikut mengerti apa yang ingin mereka sampaikan.

 

Lalu, hal apa yang bisa menjadi ‘value’ bagi perusahaan saya? Kelima hal di atas tentu bisa menjadi ‘value’, namun bagi saya satu ‘value’ yang terpenting dari Jepang adalah budaya ‘On Time’, di mana mereka sangat disiplin terhadap waktu. Keterlambatan menjadi hal yang sensitif, karena dianggap kurang menghargai orang lain dan bisa mengganggu kepentingan orang banyak. Memang perubahan tidak bisa instan dirasakan, tapi saya yakin, perubahan dimulai dari hal-hal kecil yang rutin kita lakukan setiap hari, mulai dari diri kita sendiri. Saya juga sempat membuat blog post berjudul “10 Sifat Orang Jepang Yang Patut Ditiru”, silahkan dibaca juga. 🙂

 

Dan itulah sedikit cerita dari perjalanan kami selama 8 hari di Jepang. Masih banyak hal lain, yang mungkin belum sempat saya ceritakan dan bagikan dalam blog post ini, karena keterbatasan dan kapasitas ingatan saya. Banyak pengalaman ‘serba pertama’ selama ke Jepang ini. Dan kembali, saya mewakili teman-teman yang dipercayakan berangkat ke Jepang, mengucapkan terima kasih kepada 3 founders kami (Touchten), bu Debbie, dan setiap orang yang terlibat dalam persiapan perjalanan ke Jepang ini, serta semua teman-teman yang mendukung secara moriil dan dalam doa. Dengan doa, upaya dan jerih payah dari teman-teman, akhirnya kami bisa menikmati dan mensyukuri perjalanan ke Jepang ini, kami bisa pergi dan pulang dengan selamat. Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi bacaan nostalgia dan sharing yang bermanfaat bagi siapapun yang membaca.

 

Fun, Collaborative, Creative, Nurturing, Humble.
Stay awesome! 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s