[OPINI] Video Game, Sarana Kebersamaan dan Olahraga


Hari ini, Selasa 30 Desember 2014, saya berinisiatif mencoba bermain arcade game (a.k.a Dingdong) dengan beberapa rekan satu kantor saya, Johana, Vinda, Inge, dan Happy, yang kebetulan perempuan semua. (hei laki-laki ke mana kalian? *eh*). Game yang dimainkan ada dua jenis, Pump It Up (PIU) dan May May. PIU ini mirip game DDR (Dance Dance Revolution) namun ke empat tombol arahnya adalah diagonal, plus satu tombol tengah, yang melatih fokus irama (rhythm) dan kecepatan kaki. Sedangkan game Mai Mai melatih kecepatan tangan dalam mengikuti irama lagu.

image

Pada dasarnya, saya memang bukan tipe gamer yang mahir bermain rhythm game. Untuk fokus dan mengikuti irama lagu cukup sulit bagi saya, apalagi saya sering salah fokus, *ups. Ditambah gerakan kaki harus sinkron dengan apa yang dilihat oleh mata saya, makin amburadul lah combo rhythm saya, skor akhir F (skor paling jelek) menjadi hal yang biasa bagi saya. T_T

Lewat game PIU ini, saya kembali diingatkan tentang sisi lain dari sebuah video game, yang dapat menjadi sarana untuk olahraga, bersosialisasi, dan bermain bersama. Video game tidak selalu identik dengan membuat gamer malas bergerak, kurang bersosialiasi, dan hanya bermain sendiri, sebuah fenomena yang saya rasakan terjadi di era mobile game saat ini.

Saya mencoba mengingat kembali masa kecil saya, di mana pertama kali saya melihat cover box konsol Nintendo (NES), gambar dalam cover tersebut adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak laki-laki. Sepertinya pada era ini, belum ada emansipasi perempuan di dunia video game. *random*
Cover ini seakan menegaskan bahwa video game pada dasarnya adalah keceriaan bersama antar anggota keluarga (dan juga teman-teman). Saya bersyukur sempat mengalami masa-masa ini bersama keluarga dan teman-teman masa kecil di era NES (konsol game pertama saya) dan Playstation 1 (konsol game favorit saya).

image

Oleh karena itu, hal ini menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang game developer saat ini, untuk tidak melihat sebuah game hanya dari satu sisi saja (baca: monetisasi), tapi lebih memperhatikan juga sisi-sisi lain seperti keceriaan (fun) , kebersamaan, dan aktivitas gerak.

Salam gamer!
Salam game developer!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s